Saturday, March 23, 2019

Belajar dari Para Pendahulu Umat Islam tentang Pemilu

Pemilihan umum di Indonesia akan segera bergulir.

Memilih pemimpin saat ini di Indonesia adalah dengan menggunakan sistem Demokrasi. Sedangkan dahulu para pendahulu umat Islam menggunakan cara yang bisa dijadikan contoh atau pelajaran. Berikut pemaparannya...

Pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaur Rosyidin

Semasa hidup Rosululloh SAW tidak pernah memberi pesan dan menunjuk siapa yang akan menggantikan kepemimpinan beliau, sehingga sepeninggal beliau SAW terjadi perselisihan diantara Muhajirin dan Ansor. Dimana pada akhirnya diputuskan soal kepemimpinan ini adalah dengan musyawarah mencapai mufakat.

1. Khalifah Abu Bakar

Awalnya pengganti kepemimpinan umat Islam ini ada beberapa orang yang di ajukan. Yaitu Saad bin Ubadah dari golongan Anshor, kemudian dari golongan muhajirin Abu Bakar mengajukan Umar bin Khatab. Tetapi Umar bin Khatab menolak dengan berkata bahwa Abu Bakar lah yang pantas menggantikan kepemimpinan.

Setelah bermusyawarah dan perdebatan, akhirnya diputuskan kepemimpinan di berikan kepada Abu Bakar. Kemudian Umar mengucap sumpah setianya lalu diikuti oleh Saad bin Ubadah dan diikuti pula oleh seluruh umat Islam.

2. khalifah umar bin Khatab

khalifah Abu Bakar menunjuk Umar sebagai khalifah dengan bertanya sebelumnya kepada Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan, Asid bin Hudhair Al-Anshary, Said bin Zaid serta sahabat - sahabatnya dari Muhajirin dan Anshor. Umumnya mereka menyetujui.

Kebijakan Abu Bakar diterima oleh kaum muslim semua, saat beliau sakit Abu Bakar menyeru kepada Ustman bin Affan untuk menulis wasiat agar Umar adalah penggantinya.

3. khalifah Ustman bin Affan

Pemilihan khalifah ini berbeda dengan sebelumnya, yaitu dengan menyerahkan pemilihan kepada dewan pemilihan khalifah. Dimana pada saat itu ada dua kandidat yaitu Ustman bin Affan dan Ali bin AbiThalib.

Kematian khalifah Umar adalah karena ditikan seorang budak persia. dimana sebelumnya telah membentuk dewan pemilihan. beliau menunjuk 6 kandidat yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidilla, Zubair bin Awwan, Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Abi Waqqas.

Saat pemilihan itu 4 dekandidat atau dewan mengundurkan diri. tersisa Ustman bin Affan dan Ali bin AbiTalhib. Namun yang unik adalah kedua calon ini saling menunjuk bahwa calon yang lain lah yang lebih pantas untuk menjadi khalifah, sampai sidang ditunda untuk ditentukan dan ditanyakan kepada masyarakat ketika itu.

pada akhirnya Ustman bin Affan yang menjadi khalifah.

4. khalifah Ali bin Abi Thalib

pada dasarnya pemilihan khalifah kali ini adalah sama dengan pemilihan khalifah Ustman bin Affan.
Namun perbedaanya adalah khalifah Ali ini adalah calon tunggal.


Dari pemaparan di atas, ada pelajaran yang mestinya diambil. yaitu kepemimpinan diatas adalah di tunjuk bukan mencalonkan diri. Pada jaman sekarang sangat berbeda jauh dengan dahulu.. dimana dari sudut padang etika mereka diatas adalah jauh lebih mulia dari pada sekarang. Dari sisi harga diri mereka jelas adalah ditunjuk bukan mencalonkan diri, yang secara langsung terdapat pengakuan masyarakat tentang kerelaan mereka di pimpin.

Mohon maaf, pada saat ini di Indonesia khususnya pileg nya itu menyedihkan. mereka yang mencalonkan diri adalah sudah mencalonkan diri, memasang foto sendiri (mungkin lebih baik jika dipasang visi misi saja dari pada foto diri), mengeluarkan modal demi kemenangan. Sungguh yang ini menyedihkan.

Bisa di inspirasikan dari lagu anak- anak yang sudah familiar di telinga yaitu gundul-gundul pacul.Yaitu bisa di ilustrasikan seperti ini:

Gundul - gundul pacul - cul gembelengan ...bisa diartikan kita yang masih gundul adalah orang yang belum tahu banyak masih perlu belajar atau bisa diartikan masih anak - anak sehingga cara berpikirnya belum matang. Gembelengan artinya tingkah lakunya itu sembarangan, tengil, gaya - gayaan, cari sensasi atau yang lain.

nyunggi - nyunggi wakul-kul gembelengan ... bisa diartikan nyunggi wakul adalah mengemban tanggung jawab. sangat berat wakul ini... kalau di jawa wakul bisa sebagai wadah nasi. Maka jika anda pada calon pemimpin, jangan main main dengan tanggung jawab ini karena anda itu di percaya membawa tanggung jawab membawa sebuah wadah yang berisi. jika anda gembelengan maka akan terjadi pada lirik selanjutnya yaitu:

Wakul glimpang segane dadi sak latar... bisa diartikan tempat atau hasil dari tanggung jawab yang diberikan tumpah atau tidak sesuai hasilnya sehingga hasil yang diharapkan itu tidak seperti yang diharapkan. Bahkan para pelaku korupsi ini bisa di ilustrasikan bahwa isi wakul yang mereka bawa itu adalah dimakan sendiri bukan dibawa untuk di berikan pada yang berhak...

demikian semoga bermanfaat , jika ada yang kurang baik atau tidak pantas mohon masukannya agar artikel ini lebih baik. Terima kasih

Friday, March 22, 2019

Orang yang Berbahagia dan Menuai Kebaikan

Siapakah orang yang berbahagia itu? dan siapa orang yang akan menuai kebaikan yang banyak?

Baik dibawah ini adalah rujukan yang diambil dari hadist Nabi SAW. yaitu:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ


Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” 

(HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)

Selanjutnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya

(HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Orang yang ingin rutin shalat ketika safar, juga akan terasa asing di kalangan orang-orang yang tidak shalat. Padahal saat safar (bepergian jauh), kita dituntut untuk tetap melaksanakan shalat. Ibnu ‘Umar berkata,
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya menghadap arah kendaraan berjalan, lalu beliau sempat melakukan witir di atas. Namun beliau tidak melakukan shalat wajib di atas kendaraan” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 700)
Orang yang ingin meninggalkan tradisi yang menyalahi Islam dan ingin mengikuti ajaran yang sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terasa asing. Orang yang ingin menjauhi budaya syirik pun sama halnya akan terasing. Alasan orang musyrik selalu dengan alasan ini sudah jadi tradisi. Dalam ayat disebutkan,
إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka” (QS. Az Zukhruf: 22). Namun tidak semua tradisi ditinggalkan, hanya tradisi yang menyelisihi ajaran Islam saja.
Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
“Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13).
Sebagian salaf mengatakan,
عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ
“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).

Referensi:

Al Bid’ah wa Atsaruha As Syai’ fil Ummah, Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Darul Hijrah, cetakan ketiga, tahun 1409 H, hal. 50-52.
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
Hasyiyah As Sindi ‘ala Ibni Majah, Maktabah Asy Syamilah.
Orang-orang yang berbuat baik di tengah-tengah manusia yang rusak, sebagaimana hadits diatas.

Rasulullah ditanya siapakah Al guroba’ itu ya Rasulallah? Rasulullah menjawab : 

الَّذِيْنَ يَصْلُحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Orang-orang yang berbuat baik di tengah-tengah manusia yang rusak."
Orang-orang yang bertambah ilmu, iman dan takwanya ketika manusia berkurang imannya.

Rasulullah ditanya siapakah Al guroba’ itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab :  
Orang-orang yang bertambah (ilmu, iman dan takwanya) ketika manusia berkurang.

(H.R Ahmad dengan sanad yang baik)

orang-orang yang berlepas diri dari suatu qobilah yang berbuat kejelekan. 

Rasulullah ditanya siapakah Al guroba’ itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab : 
Orang-orang yang berlepas diri dari suatu qobilah yang berbuat kejelekan.

(H.R Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi dan AT Thohawi dan sanadnya shohih)

Orang-orang yang sholeh ditengah-tangah manusia yang banyak.
Rasulullah ditanya siapakah Al guroba’ itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab : 

نَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلٌ فِيْ نَاسٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“Orang yang sholeh berjumlah sedikit ditengah-tengah manusia yang banyak, yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada yang mentaatinya."

(HR. Ahmad dan Ibnu Mubarok)

Orang-orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dan mengajarkannya.
Rasulullah ditanya siapakah Al guroba’ itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab : 

الَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ سُنَّتِيْ وَ يُعَلِّمُوْنَهَا النَّاسَ

Yaitu orang orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia."

(H.R Al Baghowi)

Kenapa mereka disebut Al Ghuroba’?

Berkata Ibnul Qoyyim : 

Mereka disebut Al Guroba’ karena kebanyakan manusia tidak berada diatas sifat-sifat ini, mereka adalah orang-orang yang minoritas akan tetapi mereka adalah orang yang asing yang dipuji oleh Allah dan Rasulullah

Semoga dapat bersabar atas keterasingan ini.