Pemilihan umum di Indonesia akan segera bergulir.
Memilih pemimpin saat ini di Indonesia adalah dengan menggunakan sistem Demokrasi. Sedangkan dahulu para pendahulu umat Islam menggunakan cara yang bisa dijadikan contoh atau pelajaran. Berikut pemaparannya...
Pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaur Rosyidin
Semasa hidup Rosululloh SAW tidak pernah memberi pesan dan menunjuk siapa yang akan menggantikan kepemimpinan beliau, sehingga sepeninggal beliau SAW terjadi perselisihan diantara Muhajirin dan Ansor. Dimana pada akhirnya diputuskan soal kepemimpinan ini adalah dengan musyawarah mencapai mufakat.
1. Khalifah Abu Bakar
Awalnya pengganti kepemimpinan umat Islam ini ada beberapa orang yang di ajukan. Yaitu Saad bin Ubadah dari golongan Anshor, kemudian dari golongan muhajirin Abu Bakar mengajukan Umar bin Khatab. Tetapi Umar bin Khatab menolak dengan berkata bahwa Abu Bakar lah yang pantas menggantikan kepemimpinan.
Setelah bermusyawarah dan perdebatan, akhirnya diputuskan kepemimpinan di berikan kepada Abu Bakar. Kemudian Umar mengucap sumpah setianya lalu diikuti oleh Saad bin Ubadah dan diikuti pula oleh seluruh umat Islam.
2. khalifah umar bin Khatab
khalifah Abu Bakar menunjuk Umar sebagai khalifah dengan bertanya sebelumnya kepada Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan, Asid bin Hudhair Al-Anshary, Said bin Zaid serta sahabat - sahabatnya dari Muhajirin dan Anshor. Umumnya mereka menyetujui.
Kebijakan Abu Bakar diterima oleh kaum muslim semua, saat beliau sakit Abu Bakar menyeru kepada Ustman bin Affan untuk menulis wasiat agar Umar adalah penggantinya.
3. khalifah Ustman bin Affan
Pemilihan khalifah ini berbeda dengan sebelumnya, yaitu dengan menyerahkan pemilihan kepada dewan pemilihan khalifah. Dimana pada saat itu ada dua kandidat yaitu Ustman bin Affan dan Ali bin AbiThalib.
Kematian khalifah Umar adalah karena ditikan seorang budak persia. dimana sebelumnya telah membentuk dewan pemilihan. beliau menunjuk 6 kandidat yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidilla, Zubair bin Awwan, Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Abi Waqqas.
Saat pemilihan itu 4 dekandidat atau dewan mengundurkan diri. tersisa Ustman bin Affan dan Ali bin AbiTalhib. Namun yang unik adalah kedua calon ini saling menunjuk bahwa calon yang lain lah yang lebih pantas untuk menjadi khalifah, sampai sidang ditunda untuk ditentukan dan ditanyakan kepada masyarakat ketika itu.
pada akhirnya Ustman bin Affan yang menjadi khalifah.
4. khalifah Ali bin Abi Thalib
pada dasarnya pemilihan khalifah kali ini adalah sama dengan pemilihan khalifah Ustman bin Affan.
Namun perbedaanya adalah khalifah Ali ini adalah calon tunggal.
Dari pemaparan di atas, ada pelajaran yang mestinya diambil. yaitu kepemimpinan diatas adalah di tunjuk bukan mencalonkan diri. Pada jaman sekarang sangat berbeda jauh dengan dahulu.. dimana dari sudut padang etika mereka diatas adalah jauh lebih mulia dari pada sekarang. Dari sisi harga diri mereka jelas adalah ditunjuk bukan mencalonkan diri, yang secara langsung terdapat pengakuan masyarakat tentang kerelaan mereka di pimpin.
Mohon maaf, pada saat ini di Indonesia khususnya pileg nya itu menyedihkan. mereka yang mencalonkan diri adalah sudah mencalonkan diri, memasang foto sendiri (mungkin lebih baik jika dipasang visi misi saja dari pada foto diri), mengeluarkan modal demi kemenangan. Sungguh yang ini menyedihkan.
Bisa di inspirasikan dari lagu anak- anak yang sudah familiar di telinga yaitu gundul-gundul pacul.Yaitu bisa di ilustrasikan seperti ini:
Gundul - gundul pacul - cul gembelengan ...bisa diartikan kita yang masih gundul adalah orang yang belum tahu banyak masih perlu belajar atau bisa diartikan masih anak - anak sehingga cara berpikirnya belum matang. Gembelengan artinya tingkah lakunya itu sembarangan, tengil, gaya - gayaan, cari sensasi atau yang lain.
nyunggi - nyunggi wakul-kul gembelengan ... bisa diartikan nyunggi wakul adalah mengemban tanggung jawab. sangat berat wakul ini... kalau di jawa wakul bisa sebagai wadah nasi. Maka jika anda pada calon pemimpin, jangan main main dengan tanggung jawab ini karena anda itu di percaya membawa tanggung jawab membawa sebuah wadah yang berisi. jika anda gembelengan maka akan terjadi pada lirik selanjutnya yaitu:
Wakul glimpang segane dadi sak latar... bisa diartikan tempat atau hasil dari tanggung jawab yang diberikan tumpah atau tidak sesuai hasilnya sehingga hasil yang diharapkan itu tidak seperti yang diharapkan. Bahkan para pelaku korupsi ini bisa di ilustrasikan bahwa isi wakul yang mereka bawa itu adalah dimakan sendiri bukan dibawa untuk di berikan pada yang berhak...
demikian semoga bermanfaat , jika ada yang kurang baik atau tidak pantas mohon masukannya agar artikel ini lebih baik. Terima kasih
No comments:
Post a Comment